Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Kabut Asap

PARANGMAYA – Musim Kabut Asap akan segera dihadapi oleh penduduk dunia. Fenomena ini akan terjadi seiring dengan akan datangnya musim gugur. Pada musim ini, lahan pertanian maupun perkebunan kerap melakukan aktivitas pembakaran. Karena pembakaran lahan, dianggap sebagai upaya pembukaan lahan berbiaya murah.

Kabut Asap tersebut, ternyata meiliki dampak serius, terhadap keselamatan populasi manusia di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah mencatat bahwa kabut asap berkontribusi terhadap polusi udara. Dan membunuh 7 juta orang per tahun termasuk 650.000 anak-anak.

Sekretariat Koalisi Iklim dan Udara Bersih, Helena Molin Valdés, mengatakan bahwa kabut asap membawa kandungan unsur PM2.5, polutan mikroskopis. kandungan berbahaya tersebut bisa menembus kedalam paru-paru dan aliran darah penghirupnya.

Dia juga menambahkan, bahwa hal ini telah meningkatkan resiko kematian akibat serangan jantung, penyakit paru-paru, stroke hingga kanker. Akibatnya jutaan orang meninggal sebelum waktunya tiap tahunnya.

“Karbon hitam adalah komponen PM2.5, polutan mikroskopis yang menembus jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah. PM2.5 meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan paru-paru, stroke dan beberapa jenis kanker, menyebabkan jutaan orang meninggal sebelum waktunya setiap tahun,”ungkapnya, sebagaimana dilansir dari situs unep.org pada Senin, tanggal 16 Agustus 2021.

Helena juga menambahkan, bahwa material PM2.5 memantik Alzheimer, penyakit Parkinson, dan demensia bagi orang tua. dan menyebabkan masalah psikologis bagi anak-anak.

Efek domino selanjutnya adalah meningkatkan kerentanan terhadap serangan COVID-19.

“Pada anak-anak, PM2.5 juga dapat menyebabkan masalah psikologis dan perilaku. Pada orang tua, ini terkait dengan Alzheimer, penyakit Parkinson, dan demensia . Dan karena polusi udara mengganggu kesehatan pernapasan, itu juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap COVID-19,” bebernya.

Helena menggarisbawahi, bahwa kualitas udara yang baik dan bersih, menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Bahkan, diperlukan bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia.

“Meningkatkan kualitas udara yang kita hirup mutlak diperlukan untuk kesehatan dan kesejahteraan kita,”katanya.

Karbon hitam, sering diremehkan sebagai pencemar iklim yang berumur pendek. Padahal, karbon hitam adalah penyumbang pemanasan global yang lebih kuat 460-1.500 kali lipat, dibanding karbon dioksida.

Ternyata dengan mengurangi polusi udara, yang mengandung karbin hitam di India Utara, dapat mencegah peningkatan banjir dan kekeringan, dan menghambat laju pencairan es dan gletser Himalaya. Sebuah hasil yang mengubah hidup miliaran orang, yang bergantung pada sungai yang dialiri oleh pegunungan tersebut.

Setiap tahun, pada tanggal 7 September, dunia merayakan Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru . Ini adalah seruan global untuk menemukan cara baru dalam melakukan sesuatu, untuk mengurangi jumlah polusi udara yang kita sebabkan, dan memastikan bahwa setiap orang, di mana pun dapat menikmati hak mereka untuk menghirup udara bersih.***

 

Sumber : UNEP

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter