Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Drone Militer

PARANGMAYA – Konsep drone jarak jauh FH-97 China identik dengan Kratos (KTOS.O) XQ-58A Valkyrie buatan AS. Drone militer buatan China ini diluncurkan pada Rabu, tanggal 29 September 2021. Drone tersebut masuk dalam kategori “loyal wingman” untuk membantu melindungi jet tempur berawak yang lebih mahal.

Drone FH-97 ini, mampu membawa berbagai jenis senjata, dan memiliki kemampuan swarm dan peperangan elektronik, kata Wu Wei, perwakilan dari lini produk Feihong China Aerospace Science Technology Corp (CASTC), dalam presentasinya di Airshow China di Zhuhai.

Amerika Serikat, Inggris, Australia, India, dan Rusia adalah negara yang mengembangkan drone “loyal wingman”, yang lebih murah dan lebih mudah digunakan daripada pesawat tempur berawak.

CASTC tidak memberikan rincian teknis dari konsep FH-97, atau mengatakan apakah itu direncanakan untuk ekspor, meskipun banyak pengamat asing menyaksikan presentasi tersebut.

Tampilan FH-97 hampir identik dengan Kratos XQ-58A. Pada penerbangan pertamanya pada 2019. XQ-58A memiliki kecepatan maksimum Mach 0,85 dan jangkauan sekitar 2.200 mil laut, sebagaimana dilansir dari Reuters pada Rabu, tanggal 29 September 2021.

Zhang Zhongyang, wakil presiden CATC mengatakan rencananya adalah untuk mengubah Feihong menjadi “merek kelas atas internasional, dan menjadi pemain utama di panggung tengah arena dunia.”

China sendiri sudah mengekspor drone militer, ke negara Uni Emirat Arab, Pakistan dan Serbia.

“Pelanggan utama tentu saja PLA, tetapi dalam beberapa tahun terakhir China juga secara agresif memasarkan sistem ini untuk ekspor,” kata Collin Koh, seorang peneliti pertahanan di Rajaratnam School of International Studies di Singapura.

China menggunakan pagelaran udara terbesar di negara itu, untuk unjuk kemampuan senjata, dari salah satu proyek drone serangan siluman paling canggih, GJ-11.

The Global Times melaporkan bahwa GJ-11 yang dipamerkan di pameran itu membuka dua ruang senjatanya untuk pertama kalinya. Di dalam masing-masing ada empat amunisi tak dikenal yang tampaknya merupakan bom luncur udara-ke-darat presisi.

Bradley Perrett, seorang spesialis di bidang kedirgantaraan, dan pertahanan Asia mengatakan, bahwa GJ-11 dirancang untuk menyelinap tanpa terdeteksi radar, dan menyerang target yang dijaga ketat.

“Dalam melakukan itu, itu akan menggantikan pesawat tempur yang jauh lebih besar dan lebih mahal dengan seorang pilot,” katanya. “Pengembangan tidak akan mudah, tetapi ketika selesai, tipe ini akan menghadirkan ancaman baru bagi Taiwan dan kemungkinan Jepang.”

Perusahaan China memiliki 27 pameran drone di pameran Zhuhai.***

 

Sumber : Reuters

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter