Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_IlustrasiHutan

PARANGMAYA – Para filantropis dan investor berkomitmen untuk mengeluarkan $ 5 miliar, untuk restorasi dan konservasi alam.  Sebuah langkah besar, dan disambut oleh para aktivis lingkungan, sebagai jumlah pendanaan swasta tertinggi yang pernah dijanjikan.

Hal ini disampaikan di sela-sela Majelis Umum PBB, di New York, akan fokus pada target “30 kali 30”, yang bertujuan untuk melindungi 30% dari tanah, dan air planet ini selama dekade berikutnya.

Para ilmuwan dan konservasionis mengatakan, bahwa langkah ini adalah kunci untuk melindungi keanekaragaman hayati. Diantaranya mencakup jutaan spesies, dan proses alami dalam ekosistem, seperti hutan hujan dan lautan. Karena saat ini sedang berada di bawah ancaman,  dari kegiatan yang dipicu oleh manusia seperti pertanian industri, perikanan, dan emisi gas rumah kaca, sebagaimana dilansir dari Reuters pada Rabu, tanggal 22 September 2021.

Tercatat hampir  $150 miliar per tahun saat ini dijanjikan untuk konservasi, dan apa yang disebut inisiatif positif-alam yang mencegah degradasi alam. Tetapi hingga $1 triliun per tahun, diperlukan untuk menghentikan, dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati, menurut Konvensi untuk Keanekaragaman Hayati, sebuah badan antar pemerintah PBB yang memimpin negosiasi keanekaragaman hayati global.

“Pengumuman hari ini menunjukkan bahwa dunia sedang berkumpul di sekitar kebutuhan untuk membalikkan hilangnya alam dan mulai memobilisasi dana dalam skala besar,” kata Marco Lambertini, Direktur Jenderal World Wide Fund for Nature.

Sekitar 85 negara, termasuk Amerika Serikat telah berjanji untuk melindungi 30% wilayah mereka.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa, akan melibatkan semua negara dengan inisiatif ini adalah kunci untuk “mengubah arus” hilangnya keanekaragaman hayati.

Organisasi seperti Rainforest Trust dan Bezos Earth Fund termasuk di antara mereka yang menjanjikan dana tersebut.***

 

Sumber : Reuters