Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Gunung Bromo

PARANGMAYA – Gunung Bromo menjadi salah satu destinasi wisata paling ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Gunung Bromo secara geografis terletak pada 7° 56’30” Lintang Selatan dan 112°57′ 00″ Bujur Timur. Gunung ini berada di empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Uniknya, ternyata Gunung Bromo termasuk bagian dari wilayah kompleks pegunungan Tengger. Gunung Tengger merupakan gunung berapi purba dengan ketinggian mencapai 4.000 MDPL.

Para ahli gunung api memiliki dua teori tentang pembentukan komplek pegunungan Tengger tersebut. Pertama, bahwa pegunungan ini terbentuk oleh dua gunung api kembar. Kedua gunung api kembar tersebut yang mempunyai ketinggian sekitar 4.500 MDPL dengan jarak 4.5 km antar kedua puncaknya.

Teori kedua, hanya ada satu gunung api yang membentuk Tengger. Selanjutnya, kompleks gunung api ini hanyalah gunung api tunggal yang kemudian meletus dengan sangat hebat. Sehingga memicu terbentuknya kaldera sebanyak dua kali atau lebih dalam  kurun waktu yang berbeda.

Tercatat ada dua kompleks kaldera besar di wilayah antara lain : (1) Kaldera Kompleks Tengger yang berumur Kuarter (2) Kaldera Nangka Jajar yang berumur  tersier yang berada di sebelah baratnya.

Sedangkan di kompleks Tengger sendiri sedikitnya ada dua kaldera antara lain : (1) Kaldera Ngadisari di sebelah timur (2) Kaldera Lautan Pasir di sebelah barat

Kaldera Tengger ini merupakan kaldera terluas di Indonesia. Tercatat total kelilingnya mencapai 46 km. Lebih luas dari kaldera Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat dengan total kelilingnya mencapai 37 km.

Kronologi Terbentuknya Kaldera Tengger

Kaldera yang sangat luas tersebut dibentuk dari beberapa proses, antara lain

1. Gunung Tengger yang memiliki ketinggian sekitar 4.000 m meletus, yang pusat letusannya berada sekitar daerah Ngadisari, mempunyai danau kawah di puncaknya dan kerucut parasit yang berada di kaki baratnya. Peristiwa ini diperkirakan sekitar 265.00 tahun yang lalu, kerucut ini kini disebut Gunung Ijo.

2. Setelah aktivitas gunung Ijo terhenti, pusat aktivitas kemudian muncul kembalu di sekitar Ngadisari. Peningkatan aktivitas tersebut berujung pada letusan paroksima, atau letusan dahsyat pada 152.000 tahun yang lalu. Sehingga membentuk kaldera pertama yang disebut kaldera Nadisari.

3. Pasca terbentuknya kaldera Ngadisari aktivitas vulkanik kemudian terhenti cukup lama karena dapur magma yang ada telah dimuntahkan semua isinya dalam letusan paroksisma pada tahap kedua. Aktivitas vulkanik kemudian meningkat lagi dengan terbentuknya kerucut baru di sekitar gunung Lingker di sebelah selatan, Gunung Penanjakan di sebelah barat daya, gunung Argowulan di sebelah utara, dan sekitar Cemara Lawang. Akti&itas vulkanik pada kala ini diawali dengan terbentuknya lava andesit pada 144.000 tahun yang lalu.

4. Tahap ini didominasi oleh letusan eksplosif, dan menghasilkan endapan jatuhan piroklastik dan aliran piroklastik. Tercatat sekitar delapan jenis aliran piroklastik yang tersebar menutup Kaldera Ngadisari berumur antara 100.000 – 33.000 tahun yang lalu.

Tahap ini diakhiri dengan terbentuknya kaldera lautan pasir, yang menghasilkan endapan aliran abu yang tersebar ke segala arah dengan radius 10 km, dan tebal dari beberapa meter hingga 30 meter pada tepi dinding kaldera.

5. Pada tahapan ini didominasi oleh aktivitas vulkanik yang berada dalam Kaldera Lautan Pasir. Aktivitas tersebut membentuk enam kerucut gunung api seperti Widodaren, Segoro Wedi Lor, Segoro Wedi Kidul, gunung Kursi, gunung Batok, dan Bromo.  Tercatat bahwa Kerucut Widodaren terbentuk sekitar 1.820 tahun yang lalu.

6. Pada kelanjutannya ternyata, aktivitas vulkanik pada kerurut Bromo berupa letusan eksplosif yang menghasilkan endapan jatuhan piroklastik yang tersebar sampai ke wilayah sekitarnya. Dan aktivitas tersebut masih berlangsung hingga kini dengan jeda letusan antara beberapa bulan sampai 16 tahun. ***

Artikel Terkait

Terkini Teraktual