Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Vaksin

PARANGMAYA – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menilai bahwa pemerintah seharusnya fokus memproduksi vaksin merah putih, bukan malah berspekulasi membangun pabrik vaksin asing.

“Dengan serah terima bibit vaksin ini, harusnya pemerintah fokus memproduksi Vaksin Merah Putih hasil karya anak bangsa. Bukan malah mewacanakan dan mendukung pembangunan pabrik vaksin buatan asing di dalam negeri,” katanya, sebagaimana dilansir dari situs dpr.go.id pada tanggal 11 November 2021.

Dia menyambut baik prosesi serah terima bibit (seed) vaksin Merah Putih, yang diberikan oleh Universitas Airlangga kepada PT Biotis Pharmaceuticals. Prosesi tersebut, disaksikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Serah terima ini, menandakan proses uji praklinis Vaksin Merah Putih telah berjalan sukses. Untuk kemudian dilanjutkan dengan uji klinis tahap 1 hingga 3 oleh PT Biotis Pharmaceuticals. BPOM dan WHO menyatakan siap mendampingi proses uji klinis ini hingga vaksin Merah Putih dapat diproduksi secara massal.

“Bila uji klinis tahap 1-3 berjalan lancar, maka diperkirakan EUA (emergency use authority) Vaksin Merah Putih dari BPOM akan keluar pada bulan Maret 2022, untuk kemudian diproduksi massal bekerja sama dengan PT Biotis Pharmaceuticals. Itu tentu sangat membanggakan,”jelasnya.

  Fadli Zon Beri Pentunjuk Ini Agar Presiden Jokowi Aman Sampai ke Kiev-Ukraina

Mulyanto tidak sependapat dengan, rencana pemerintah yang diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, ketika berencana menggandeng perusahaan China.

Luhut berwacana membangun pabrik vaksin asal China tersebut di Indonesia. Pemerintah akan memfasilitasi pendirian pabrik vaksin, yang berbasis mRNA tersebut dan direncanakan akan berproduksi pada bulan bulan April tahun 2022.

Seharusnya pemerintah memprioritaskan produksi vaksin Merah Putih, terlebih para ahli dalam negeri sudah mampu memproduksi vaksin tersebut.

“Kita mesti menggenjot, mengawal dan memproduksi Vaksin Merah Putih hasil riset anak bangsa dengan berbagai kebijakan dan insentif, bukan malah mempromosikan pembangunan pabrik vaksin asing di Indonesia. Ini terkesan asing minded. Dan rela pasar domestik kita, yang besar ini, digerogoti oleh pabrik vaksin asing. Ini soal jiwa merah putih dan kedaulatan teknologi kita,”ungkapnya.

Mulyanto juga menerangkan bahwa, konsorsium Riset Covid-19, yang dikoordinasikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terdapat 11 platform riset Vaksin Merah Putih yang dijalankan oleh 6 lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi.

  Terbaru ! 300 Karyawan Netflix Di PHK, Ini Penjelasannya

Keenam lembaga tersebut antara lain : (1) LBM Eijkman (2)LIPI (3) UI (4) ITB (5) Unair dan (6) UGM. Riset Vaksin Merah Putih berbasis platform virus yang dimatikan (inactivated virus), yang dimotori Universitas Airlangga, adalah platform riset yang paling progresif.

Sumber : DPR RI

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter