Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Google Doodle Hari Pahlawan

PARANGMAYA – Penampakan situs pencarian Google hari ini menampilkan ilustrasi Doodles sosok laki-laki yang memainkan biola. Laki-laki yang ditampilkan pada Google Doodle pada hari pahlawan ini, adalah sang maestro Ismail Marzuki.

Jasa Ismail Marzuki dalam dunia seni dan kebudayaan, membuat pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2014 semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Nama Ismail Marzuki bahkan diabadikan ke dalam tempat pusat kesenian dan kebudayaan yang bernama Taman Ismail Marzuki.

Pahlawan Nasional yang satu ini, dikenal sebagai sang maestro musik Indonesia. Dia menciptakan lagu perjuangan, yang dinyayikan oleh rakyat Indonesia hingga sekarang. Besarnya jasa Ismail Marzuki membuat pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Batavia atau saat ini berganti Jakarta pada tanggal 11 Mei 1914 dan wafat pada 25 Mei 1958. Sang Maestro dilahirkan dari pasangan dari Marzuki dan Solechah. Dia memiliki seorang istri bernama Eulis Zuraidah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Rachmi Aziah

Dalam biografi Ismail Marzuki, ia terkenal sebagai pemuda yang berkepribadian luhur dan tergolong anak pintar. Ismail sejak muda senang tampil necis. Bajunya disetrika licin, sepatunya mengkilat dan ia senang berdasi. Darah seni Ismail mengalir dari ayahnya, Marzuki, yang saat itu seorang pegawai di perusahaan Ford Reparatieer TIO.

Ayahnya, Marzuki dikenal gemar memainkan kecapi dan piawai melagukan syair-syair yang bernapaskan Islam. Jadi tidak aneh kalau kemudian Ismail sejak kecil sudah tertarik dengan lagu-lagu.

Orang tua Ismail Marzuki yakni Marzuki dan Solechah termasuk golongan masyarakat Betawa intelek yang berpikiran maju. Ismail Marzuki yang dipanggil dengan nama Ma’ing, sejak bocah sudah menunjukkan minat yang besar terhadap seni musik.
Pendidikan Ismail Marzuki

Ismail Marzuki disekolahkan di sebuah sekolah Kristen HIS Idenburg, Menteng. Dengan alasan merasa khawatir kalau nantinya bersifat kebelanda-belandaan, maka ayahnya memindahkan  Ismail Marzuki ke Madrasah Unwanul-Falah di Kwitang.

Ismail Marzuki mendapatkan hadiah alat musik tiap naik kelas, seperti harmonika, mandolin, dan gitar. Setelah lulus, ia masuk sekolah MULO, dan membentuk grup musik sendiri. Mulailah dia memainkan alat musik banyo, dan gemar memainkan lagu-lagu gaya Dixieland serta lagu-lagu Barat yang digandrungi pada masa itu.

Pasca tamat dari MULO, Dia bekerja di Socony Service Station, sebagai kasir dengan gaji 30 gulden sebulan. Sehingga dia sanggup menabung untuk membeli biola. Karena pekerjaan kasir, dirasakan kurang cocok, maka pindah pekerjaan dengan gaji tidak tetap, sebagai verkoper (penjual) piringan hitam produksi Columbia, dan Polydor yang berkantor di Jalan Noordwijk (sekarang Jalan Ir. H. Juanda) Jakarta.

Ismail Marzuki banyak berkenalan dengan artis pentas, film, musik dan penyanyi, selama berdagang piringan hitam. Dia berkenalan dengan Zahirdin, Yahya, Kartolo, dan Roekiah (orangtua Rachmat Kartolo).

Tercatat pada 1936, Ismail Marzuki memasuki perkumpulan orkes musik Lief Jawa sebagai pemain gitar, saksofon, dan harmonium pompa.

Ismail mendapat kesempatan mengisi acara siaran musik pada tahun 1934. Acara tersebut merupakan bentukan Belanda yang disebut Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM) dan orkes musik Lief Java. Namun, Ismail Marzuki, justru mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu Barat, kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri antara lain “Ali Baba Rumba”, “Ohle le di Kotaraja”, dan “Ya Aini”.

Karya ciptaannya direkam ke dalam piringan hitam di Singapura. Orkes musiknya punya sebuah lagu pembukaan yang mereka namakan Sweet Jaya Islander. Lagu itu, tiba-tiba dijadikan lagu pembukaan siaran radio NIROM, sehingga grup musik Ismail Marzuki mengajukan protes, namun protes mereka tidak digubris oleh direktur NIROM.

Ismail Marzuki mulai mempelajari berbagai jenis lagu tradisional dan lagu Barat pada 1936-1937. Diantara karya ciptaannya antara lain (1) My Hula-hula Girl (2) Bunga Mawar dari Mayangan (3) Duduk Termenung. Lagu ketiga berhasil menjadi tema lagu, untuk film Terang Bulan.

Periode awal Perang Dunia II sekitar 1940 beberapa orang Indonesia di Betawi, mulai membuat radio sendiri dengan nama Vereneging Oostersche Radio Omroep (VORO), di Karamat Raya. Antene pemancar mereka buat sendiri dari batang bambu.

Rutin setiap malam Minggu orkes Lief Java, mengadakan siaran khusus dengan penyanyi Annie Landouw sedangkan  Ismail Marzuki menjadi pemain musik, merangkap mengisi acara lawak, dengan nama samaran Paman Lengser dibantu oleh Botol Kosong alias Memet.

Ismail Marzuki pernah diberi hadiah sebuah saksofon oleh kawannya. Namun, ternyata menderita penyakit paru-paru, dan dokter menjelaskan pada Ismail Marzuki, lalu alat tiup tersebut dimusnahkan. Dan sejak saat itu pula penyakit paru-paru mengganggunya.

Ismail Marzuki juga menterjemahkan sebuah lagu Rusia ciptaan R. Karsov, ke dalam bahasa Sunda menjadi “Panon Hideung”. Sebuah lagu ciptaannya berbahasa Belanda tapi memiliki intonasi Timur yakni lagu “Als de orchideen bloeien”.

Lagu ini kemudian direkam oleh perusahaan piringan hitam His Master Voice (HMV). Kelak lagu ini diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bila Anggrek Mulai Berbunga”.

Ismail Marzuki menikah dengan penyanyi kroncong Eulis Zuraidah, pada tahun 1940. Pada Maret 1942, saat Jepang menduduki seluruh Indonesia, Radio NIROM dibubarkan diganti dengan nama Hoso Kanri Kyoku. PRK juga dibubarkan Jepang, dan orkes Lief Java berganti nama Kireina Jawa.

Ismail Marzuki memulai menciptakan lagu-lagu perjuangan. Mula-mula syair lagunya masih berbentuk puitis yang lembut seperti “Kalau Melati Mekar Setangkai”, “Kembang Rampai dari Bali” dan bentuk hiburan ringan, bahkan agak mengarah pada bentuk seriosa.

Ismail Marzuki menciptakan lagu perjuangan, pada tahun 1943-1945, lagu ciptaannya antara lain (1) Rayuan Pulau Kelapa (2) Bisikan Tanah Air (3) Gagah Perwira (4) Indonesia Tanah Pusaka.

Kepala bagian propaganda Jepang, Sumitsu, mencurigai lagu-lagu tersebut lalu melaporkannya ke pihak Kenpetai (Polisi Militer Jepang), sehingga Ismail Marzuki sempat diancam oleh Kenpetai. Namun, putra Betawi ini tak gentar. Bahkan, Ismail Marzuki pada 1945 menciptakan lagu “Selamat Jalan Pahlawan Muda”.

Ismail Marzuki terus mengalir menciptakan lagu usai Perang Dunia II, Lagu tersebut antara lain (1) Jauh di Mata di Hati Jangan pada tahun 1947 (2) Halo-halo Bandung tahun 1948. Saat itu Ismail Marzuki dan istrinya pindah ke Bandung karena rumah mereka di Jakarta kena dihantam peluru mortir.

Ketika berada di Bandung selatan, ayah Ismail Marzuki di Jakarta meninggal. Ismail Marzuki terlambat menerima berita. Ketika dia tiba di Jakarta, ayahnya telah beberapa hari dimakamkan. Kembang-kembang yang menghiasi makam ayahnya dan telah layu, mengilhaminya untuk menciptakan lagu “Gugur Bunga”.

Sedangkan lagu-lagu ciptaan masa perjuangan yang bernuansa romantis tanpa mengurangi nilai-nilai semangat perjuangan antara lain (1) Ke Medan Jaya (2) Sepasang Mata Bola (3) Selendang Sutra (4) Melati di Tapal Batas Bekasi  (5) Saputangan dari Bandung Selatan (6) Selamat Datang Pahlawan Muda.

Ciptaannya terkait dengan lagu hiburan populer, yang beraroma cinta pun sampai-sampai diberi suasana kisah perjuangan kemerdekaan, seperti syair lagu Tinggi Gunung Seribu Janji dan Juwita Malam. Ciptaan khusus yang  mengisahkan kehidupan para pejuang kemerekaan, seperti  “Oh Kopral Jono” dan “Sersan Mayorku”.

Lagu ciptaannya bergenre romantis murni dan hiburan ringan, digarap secara populer ditambah dengan bentuk syairnya berbobot seriosa, seperti lagu “Aryati” dan “Oh Angin Sampaikan. Tahun 1950 dia masih mencipta lagu “Irian Samba” dan tahun 1957 lagu “Inikah Bahagia”.

Sampai pada lagu ciptaan yang ke 100-an, Ismail Marzuki masih merasa belum puas dan belum bahagia. Malah, lagu ciptaannya yang ke-103 tidak sempat diberi judul dan syair. Dan sang maestro Ismail Marzuki Wafat.***

 

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter