Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_ River Forest Amazon

PARANGMAYA – Pemimpin masyarakat adat Waorani Ekuador, Nemonte Nenquimo menginspirasi keberadaan kearifan lokal, mampu membantu mencegah krisis lingkungan.

Nenquimo menawarkan ide tentang mempertahankan penghidupan, keberadaan masyarakat adat dan kearifan lokal  di hutan Amazon melampaui tindakan yang bertaraf lokal. Namun, tindakan tersebut syarat dengan visi global, terkait penyelamatan seluruh umat manusia, dari ancaman perubahan Iklim. tentang perlawanan kepada agresi

“Jika kita membiarkan Amazon dihancurkan itu mempengaruhi kita sebagai masyarakat adat, tetapi juga akan mempengaruhi semua orang karena perubahan iklim. Perjuangan yang kita lakukan adalah untuk seluruh umat manusia,”ungkapnya.

Nenquimo menggarisbawahi, bahwa kehidupan dan penghidupan masyarakat adat terikat langsung dengan tanah yang didiaminya. Lebih dari itu, ketika terjadi perubahan iklim, maka masyarakat adat akan terdampak paling awal.

“Karena kehidupan mereka sering terikat erat dengan tanah, masyarakat adat termasuk yang pertama menghadapi dampak dari perubahan iklim,” katanya, sebagaimana dikutip dari laman unep.org pada tanggal 9 Agustus 2021

Dia menambahkan bahwa penting bagi dunia luar, mengakui hak-hak serta kearifan masyarakat adat, dalam menyelaraskan kehidupannya dengan alam.

Pengakuan tersebut penting, karena hingga kini tekanan kemiskinan, dan serangan kepada tanah-tanah masyarakat adat oleh para penambang, penebang dan perusahaan minyak. Mereka semua mengekspansi, dengan platform mengembangkan hutan hujan Amazon.

“Dari Gurun Kalahari hingga Pegunungan Himalaya hingga Hutan Hujan Amazon, kekeringan, banjir, dan kebakaran telah melanda masyarakat yang telah berjuang dengan kemiskinan dan serangan ke tanah mereka. Itu membuat semakin penting bagi dunia luar untuk mengakui hak dan praktik masyarakat adat, bebernya.

Serangan itu semakin lengkap ketika berhadapan, dengan para ekstraktivis, kapitalis, dan pemerintah. Secara terang-terangan menuding bahwa masyarakat adat tidak tahu apapun.

“Para ekstraktivis, kapitalis, pemerintah, mereka mengatakan masyarakat adat tidak tahu apa-apa,” ucap Nenquimo menirukan tudingan mereka.

Nenquimo menuntut kelompok-kelompok tersebut menghormati masyarakat adat dan kearifan lokalnya. Karena masyarakat adat mengetahui mengapa perubahan iklim terjadi.

“Kami, masyarakat adat, tahu mengapa perubahan iklim terjadi…manusia merusak dan menghancurkan planet kita. Sebagai masyarakat adat, kita harus bersatu dalam satu tujuan: bahwa kita menuntut agar mereka menghormati kita.”

Narasi, dan perlawanannya memimpin menghalau para penambang, penebang dan perusahaan minyak ,yang berniat mengembangkan hutan hujan Amazon, akhirnya berbuah manis.

Dia memenangkan gugatan di pengadilan pada tahun 2019, soal melarang ekstraksi sumber daya di 500.000 hektar tanah leluhurnya

Nenquimo, juga berhasil menyabet penghargaan lingkungan Goldman Environmental Prize 2020, dari PBB.

Anugerah dari Perserikatan Bangsa-Bangsa 2020, tidak hanya berharap untuk menyelamatkan Waorani. Dengan melindungi Amazon, penyimpan penting gas rumah kaca.

Nenquimo menaruh harapan besar untuk bisa menyelamatkan planet ini.

Pejabat Program Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Lahan di United Nations Environment Programme (UNEP), Drissi mendukung distribusi kearifan lokal, sebagai resep mengkentikan kerusakan alam.

“Kita benar-benar perlu melindungi, melestarikan, dan mempromosikan pengetahuan tradisional, pemanfaatan berkelanjutan secara adat, dan keahlian masyarakat adat jika kita ingin menghentikan kerusakan yang kita lakukan,” tuturnya.***

 

Sumber : UNEP

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter