Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

https://parangmaya.com/wp-content/uploads/2021/10/Pixabay_Ilustrasi-Monyet.jpg

PARANGMAYA – Habitat Owa Jawa terancam punah. Kelompok konservasi lokal SwaraOwa, menemukan bahawa populasinya sekitar 400 ekor owa yang hidup, di cagar alam sepanjang 73 kilometer di Hutan Petungkriyono di Jawa Tengah.

Satwa ini lebih akrab disebut Siamang Keperakan. Keunikan dari primata ini adalah peranannya dalam regenerasi vegetasi hutan yang berfungsi menyebarkan biji. Populasinya mayoriyas di Jawa tengah dan barat.

Saat ini SwaraOwa  bekerja sama dalam upaya melestarikan kantong kecil hutan di pulau Jawa. Karena habitat owa jawa, terancam oleh perubahan iklim dan perambahan manusia.

Peneliti Arif Setiawan mengatakan sebanyak 70 kelompok secara teratur terlihat di hutan, dibandingkan dengan sekitar 50 pada tahun 2012 tetapi memperingatkan bahwa habitat mereka terancam.

“Ancaman nyata saat ini adalah keutuhan hutan itu sendiri karena semakin banyaknya aktivitas manusia,” ujarnya.

Conservation International memperkirakan ada sekitar 4.000 owa jawa yang tersisa. Mereka terdaftar sebagai terancam punah di International Union for Conservation of Nature Red List of Threatened Species, sebagaimana dilansir dari Reuters pada tanggal 7 Oktober 2021.

SwaraOwa dan pemerintah mengadakan program sosialisasi dengan masyarakat setempat setiap bulan dan memasang rambu larangan perburuan dan penebangan liar di hutan.

Dalam satu proyek, mereka bekerja dengan kepala desa setempat untuk membudidayakan kopi yang ditanam di bawah naungan sebagai bisnis, sebuah praktik yang dapat dilakukan tanpa merugikan hutan.

SwaraOwa juga menjalankan wisata alam, termasuk akomodasi, bagi wisatawan ke hutan yang berfokus pada kelestarian, sebagai sarana memberikan sumber pendapatan alternatif bagi penduduk setempat yang tidak merusak lingkungan.

Sedangkan yang lebih sulit ditangani adalah terkait perubahan iklim.

“Hujan masih turun padahal seharusnya musim kemarau dan itu pada akhirnya akan berdampak pada vegetasi,” kata pejabat kehutanan setempat Untoro Tri Kurniawan.

“Alih-alih musim berbuah, daun tumbuh,” katanya. “Jadi bunga yang seharusnya menjadi buah itu gugur dan akhirnya berdampak pada hewan-hewan di Petungkriyono.”***

 

Sumber : Reuters