Ngeri! Hingga Kini Tragedi Kelaparan dan Konflik Politik Masih Terjadi di Ethiopia

Pixabay_Ilustrasi Anak Afrika

Pixabay_Ilustrasi Anak Afrika

PARANGMAYA – Aragure, Desa di sebelah timur Mekelle, ibu kota wilayah Tigray yang saat ini diperangi di Ethiopia. Daerah tersebut, telah terjadi konflik lebih dari 10 bulan. Sedangkan kondisi warganya dibekap oleh tragedi kelaparan, sedangkan bantuan hingga bulan Juli hanya terbatas, di daerah pedesaan Tigray, kini telah mencapai pinggiran Mekelle.

Tragedi kelaparan disana, diantaranya dialami oleh Haftom Hailay, yang berusia delapan belas bulan, dan terlalu lemah untuk menangis. Yang bisa dilakukan anak laki-laki, dengan berat tiga kilogram itu, hanyalah mendesah kesakitan. Sedangkan Ibunya, yang kekurangan gizi, tidak punya susu untuk menyusuinya.

adsbygoogle


“Menjadi normal untuk menghabiskan empat hari tidak makan apa-apa,” kata Girmanesh, yang seperti orang lain mencoba bertahan hidup dengan makan sedikit tanaman apa pun yang dapat disumbangkan kerabatnya dari Mekelle. Saya menunggu selama dua minggu di desa … berharap seseorang akan membantu,” tambahnya. “Tapi tidak ada yang bisa membantu. Semua orang seperti kita,”katanya, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera pada Kamis, tanggal 23 September 2021.

Khawatir tentang kesehatan putranya, Girmanesh pada 11 September berjalan kaki dari Aragure, dan membawa Haftom ke Rumah Sakit Rujukan Ayder andalan Tigray di Mekelle.

“Kerabat saya menyuruh saya tinggal di desa, bahwa tidak ada yang bisa dilakukan rumah sakit,” kata Girmanesh. “Tapi melihat anak saya semakin lemah setiap hari, saya tidak bisa duduk dan menunggu sampai dia mati di tangan saya,”ungkapnya.

Selama dua bulan terakhir, rumah sakit utama di Mekelle telah menerima 60 anak dengan gizi buruk akut. Dari 60 itu, enam di antaranya telah meninggal, menurut Dr Abrha Gebregzabher, seorang dokter anak yang mengawasi perawatan anak-anak yang kekurangan gizi di rumah sakit Ayder.

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, pada November 2020 melancarkan serangan militer untuk menyingkirkan partai yang memerintah Tigray, Front Pembebasan Rakyat Tigray, yang menuduhnya menyerang pasukan federal.

Konflik itu terus berkelanjutan, sehingga menewaskan ribuan orang, dan membuat lebih dari dua juta orang mengungsi, dan baru-baru ini, telah meluas ke wilayah tetangga Amhara dan Afar.

Komunikasi terputus di seluruh Tigray sejak 29 Juni, ketika pejuang Tigray merebut kembali sebagian besar wilayah tersebut.

Menurut PBB, lebih dari 400.000 orang menghadapi kondisi seperti kelaparan dan 1,8 juta berada di ambang kelaparan di seluruh Tigray. Wilayah berpenduduk sekitar enam juta orang itu tetap berada di bawah “blokade kemanusiaan de facto”, kata PBB awal bulan ini, memperingatkan “malapetaka yang membayangi” dan mendesak semua pihak yang bertikai untuk mengizinkan dan memfasilitasi pengiriman bantuan tanpa hambatan.

Terkini

PARANGMAYA.COM – Kerajaan Maritim Majapahit bediri diantara beberapa prahara besar. Prahara yang melumat 2 kerajaan Jawa yaitu Singhasari dan Daha. Ditambah dengan pengusiran ekspansi imperium mongol ke tanah Jawa. Ketiga...