Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Manila-Filipina

PARANGMAYA – Presiden Filipina, Rodrigo Duterte akhirnya menyetujui penerapan lockdown di wilayah ibu kota, Manila. Kebijakan ini diberlakukan, untuk membendung laju penyebaran varian virus corona Delta, dan untuk melindungi sistem medis negara itu.

Kebijakan ini diumumkan lewat juru bicara kepresidenan, Harry Roque dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Jumat, tanggal 30 Juli 2021

Wilayah ibu kota Manila, terbentang dari 16 kota yang menampung lebih dari 13 juta orang, akan ditempatkan di bawah pembatasan karantina paling ketat mulai 6 hingga 20 Agustus. Meskipun ini adalah keputusan yang menyakitkan, ini untuk kebaikan semua,”katanya Sebagaimana dilansir dari Reuters pada Jumat, tanggal 30 Juli 2021

Pada saat bersamaan, dia mengatakan bahwa Lock down diperkirakan akan menelan biaya ekonomi $ 4 miliar, akan mencegah orang meninggalkan rumah mereka. Kecuali untuk belanja penting, sementara makan di dalam ruangan dan di luar ruangan dilarang.

Ketua Dewan Walikota Ibu kota menyatakan bahwa kebijakan lock down adalah intervensi yang tepat.

“Delta sudah ada di seluruh Metro Manila. Ini intervensi yang tepat,” kata Benjamin Abalos,”katanya.

Pada saat bersamaan, Walikota merencanakan meningkatkan vaksinasi dengan memberikan 250.000 dosis sehari, naik dari 150.000 sekarang, katanya.

Baca juga:  Dewan Pers ke PWI Jatim Ajak Konstituen Bersinergi

Varian Delta yang sangat mudah menular, pertama kali terdeteksi di India, telah menyebar dengan cepat di sebagian besar Asia Tenggara.

Lockdown ini juga, memeberlakukan pelarangan pelancong, berasal dari 10 negara termasuk India, Indonesia, Thailand, dan Uni Emirat Arab hingga 15 Agustus 2021. Filipina termasuk salah satu yang terburuk kedua di Asia dalam penanganan pandemi, tercatat lebih dari 1,57 juta kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, dan lebih dari 27.000 kematian.

Negara ini telah melaporkan 216 kasus varian Delta, tetapi para ahli kesehatan mengatakan, mungkin ada lebih banyak kasus yang tidak terdeteksi, karena lambatnya pengurutan genom negara itu.

Gelombang kedua yang medera Filipina, mencapai puncaknya pada bulan April, tetapi infeksi mulai meningkat lagi dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini okupansi rumah sakit di wilayah ibu kota adalah 49%, sedangkan tingkat untuk tempat tidur perawatan intensif adalah 58%.

Dengan hanya 7% dari 110 juta orang di negara itu yang divaksinasi penuh, puluhan juta tetap rentan terhadap COVID-19.

Baca juga:  Dewan Pers ke PWI Jatim Ajak Konstituen Bersinergi

Resiko dari lock down akan mendorong investor untuk menjual saham, dengan indeks Filipina (.PSI) merosot 3,5% ke penutupan terendah dalam lebih dari sembilan minggu.

Sekretaris Perencanaan Ekonomi Karl Chua mengatakan, bahwa lock down dapat merugikan ekonomi 210 miliar peso ($ 4,18 miliar), memotong 444.000 pekerjaan, dan meningkatkan jumlah orang miskin hingga 177.000.

Setelah mengalami rekor kontraksi 9,6% pada tahun 2020, Filipina menargetkan ekspansi ekonomi sebesar 6,0%-7,0% tahun ini.***

 

Sumber : Reuters