Jalan Panjang Vaksin Dengue

Jalan Panjang Vaksin Dengue

Setiap hujan mulai mengguyur Ibu Kota dan di sejumlah daerah setelah kemarau, membuat genangan air gampang terbentuk dan mempermudah nyamuk berkembang biak pada pergantian musim ini. Akibatnya, sejumlah kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) bermunculan.

Infeksi virus dengue tercatat sudah ada di Indonesia sejak abad ke-18. Ketika itu, penyakit ini disebut demam lima hari (vijfdaagse koorts) karena demam korban akan hilang dalam lima hari ataupun demam sendi (knokell koorts), karena demam muncul disertai nyeri sendi, otot, dan kepala.

adsbygoogle


Pada masa itu, infeksi dengue hanya dianggap penyakit ringan yang tak mematikan. Sejak 1952, infeksi virus dengue dengan manifestasi klinis berat yang disebut demam berdarah dengue (DBD) ditemukan di Manila, Filipina.

Dalam waktu singkat, DBD menyebar ke sejumlah negara, mulai dari Indonesia hingga kawasan Indocina. Pada 1968, kematian tinggi akibat DBD ditemukan di Surabaya, Jawa Timur dan Jakarta.

Kini, DBD sudah ditemukan di seluruh Indonesia. Sebanyak 200 kota tercatat pernah melaporkan kasus luar biasa DBD. Dalam waktu 30 tahun, angka kejadian DBD di Indonesia telah melonjak dari 0,005 per 100.000 menjadi 6-27 persen per 100.000 penduduk atau naik 1.200 sampai 5.400 kali.

Tingginya pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota yang tak terencana hingga kurangnya kontrol pada faktor nyamuk di daerah endemis membuat virus dengue mudah menyebar. Kemajuan transportasi kian membuat nyamuk Aedes aegypti dan virus dengue pindah lebih jauh.

Hingga kini, virus dengue tersebar ke lebih dari 100 negara. Pemanasan global membuat penyakit itu menyebar kian luas. Sebanyak 2,5 miliar penduduk Bumi di daerah tropis dan subtropis terancam.

Labuh dari 75 persen di antaranya ada di Asia Pasifik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, 390 juta orang terinfeksi virus dengue setiap tahun dan 22.000 orang tewas. Sebagian besar di antaranya anak-anak dan remaja.

Lebih dari 60 tahun sejak virus dengue yang ganas ditemukan, hingga kini belum ada obat dan vaksin untuk mengatasi dengue dan demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, pengendalian perkembangan nyamuk Aedes Aegypti adalah kunci pencegahan.

Pencegahan perkembangan nyamuk adalah upaya kesehatan berbasis masyarakat yang menuntut komitmen kuat dan luas masyarakat. Meski lingkungan sekitar rumah sudah terbebas dari sarang nyamuk, siapa pun masih bisa digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue di tempat kerja, sekolah, mal, hingga di perjalanan.

Karena itu, pencegahan bersifat individu dengan pemberian vaksin diperlukan. Vaksin adalah bibit penyakit yang sudah dilemahkan, sehingga sifat menyebabkan penyakitnya tak ada.