Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Lahan PertanianPixabay_Ilustrasi Lahan Pertanian

PARANGMAYA – Pemimpin Kebijakan Fiskal Hijau di UNEP, Joy Kim menganalisa bahwa kebijakan pendukung pertanian modern saat ini terdiri dari insentif harga yang merusak lingkungan.

Dia menjelaskan dalam sebuah diskusi bahwa, sebagian besar kebijakan pendukung saat ini, terdiri dari insentif harga yang merusak lingkungan, seperti : tarif impor dan subsidi ekspor, serta subsidi fiskal yang terkait, dengan produksi komoditas atau input tertentu.

Joy mengambil contoh: bahwa di negara-negara berpenghasilan tinggi, dukungan sebagian besar mensponsori industri daging dan susu yang besar, sementara di negara-negara berpenghasilan rendah, subsidi sering kali mensponsori pestisida dan pupuk beracun. Bahkan, tidak jarang mendorong pertumbuhan monokultur, seringkali makanan pokok seperti sereal. Artinya, petani kurang tidak didorong untuk melakukan diversifikasi, ke arah pangan yang lebih bergizi, sebagaimana dilansir dari situs resmi UNEP, tanggal 14 September 2021.

Dia melanjutkan bahwa, seharusnya fokus dukungan pertanian, harus dialihkan untuk mengurangi 55,7 juta ton karbon dioksida, pada tahun 2030, melindungi dan memulihkan ekosistem yang terdegradasi, dan memangkas penggunaan bahan kimia pertanian.

Menurutnya sistem pangan dari pertanian modern bertanggung jawab, atas 70 persen air yang diambil dari alam, menyebabkan 60 persen hilangnya keanekaragaman hayati, dan menghasilkan hingga sepertiga emisi gas rumah kaca manusia.

Pada saat bersamaan, pertanian memiliki peran penting dalam mengakhiri kemiskinan, memberantas kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan mengurangi kesenjangan.

Hal ini perlu digarisbawahi bahwa, dunia hanya memiliki tenggat waktu selama delapan tahun, agar sampai pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan mengurangi separuh emisi global, apa pun yang berkontribusi, untuk mencapai target ambisius ini harus diperlakukan sebagai prioritas.

Ambivalensi pertanian modern selalu terjebak pada paradoks, bahwa senyatanya pertanian modern, telah berbuat banyak untuk mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan ketahanan pangan disatu sisi. Tapi justru disisi lainnya, berkontribusi pada keadaan darurat iklim , merusak lingkungan, dan gagal menyediakan makanan bergizi bagi jutaan orang.

Joy juga mengupas terkait besaran dukungan keuangan, untuk produsen pertanian, yang mencapai hampir $540 miliar per tahun, atau sekitar 15 persen dari total nilai produksi pertanian. Dan lebih dari separuhnya, didistribusikan untuk insentif harga, sedangkan sisanya dalam bentuk subsidi fiskal.

Menurutnya besaran dukungan keuangan itu, sangat banyak, tapi tidak membayar dividen, pada saat krisis lingkungan dan sosial. Sekarang lebih dari 720 juta orang, menghadapi kelaparan, dan hampir satu dari tiga orang tidak memiliki akses ke makanan, yang cukup. Pemburukan kondisi akses pangan tersebut, diperparah oleh darurat iklim kita yang sudah masuk dalam “kode Merah”untuk¬† kemanusiaan, dan metode pertanian kita memperburuknya.

Selanjutnya, dia merekomendasikan penggunaan kembali, subsidi pertanian untuk membangun sistem pangan global, yang lebih baik dan lebih adil. Dibandingkan diarahkan, kepada mendistorsi harga, menciptakan inefisiensi, dalam sumber daya publik dan menyebabkan biaya tinggi, yang tidak dapat diterima untuk alam, iklim, nutrisi, kesehatan dan kesetaraan.***

Sumber : UNEP

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter