Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_G.Agopuro Taman Hidup

PARANGMAYA – Para pendaki gunung kerap mengalami kisah ganjil saat berpetualang. Kisah nyata ini juga diungkap oleh kelima pendaki gunung yang sedang berpetualang menjelajah di Gunung Argopuro, Jawa Timur. Kawasan pegunungan yang berketinggian 3.008 MDPL akrab disebut oleh para pendaki sebagai wilayah kekuasaan Dewi Rengganis oleh warga setempat.

Sehingga nama tersebut, diabadikan oleh para pendaki terdahulu untuk dipakai sebagai salah satu nama puncak gunung Argopuro, dengan sebutan Puncak Rengganis.

Pemandangan alam gunung Argopuro tergolong eksotis. Mengingat indahnya pemandangan alamnya, dan ditunjang oleh keanekaragaman hayatinya. Sehingga flora dan faunanya cenderung beragam, jadi tak mengherankan Gunung Argopuro menjadi salah satu destinasi petualangan, bagi penggiat olah raga hiking.

Keindahan alam serta keragaman flora maupun faunanya, kerap menjadi magnet bagi para pendaki baik yang berasal dari Jawa, Luar Jawa dan manca Negara.

Para pendaki juga tak banyak mengetahui, bahwa dibalik keindahannya ternyata gunung ini menyimpan kisah mendebarkan terhadap sekelompok rombongan pendaki.

Kelima pendaki asal Surabaya termasuk yang mengalami kisah mendebarkan tersebut. Tepatnya pada tahun 2000, pada bulan Ramadhan, di Gunung Argopuro. Kejadiannya dimulai ketika kelima pendaki tersebut, memutuskan untuk beristirahat dan di selter Cikasur pada pukul 17:00. Mereka memutuskan beristirahat di selter Cikasur karena harus menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Cikasur merupakan salahsatu selter ikonik bagi mayoritas pendaki. Karena dilokasi inilah, para pendaki disuguhi hamparan padang rumput yang luas, sumber mata air yang jernih. Ditambah barisan tanaman slada air, di pinggiran sungainya.

Selain itu jika pendaki beruntung, maka akan berjumpa dengan kawanan merak liar, dan babi hutan. Bahkan, tak sedikit pendaki bertemu dengan rusa, dan macan.

Hal yang ikonik lainnya dari lokasi tersebut, adalah tentang peninggalan dari kolonial Belanda. Terdapat puing-puing bangunan bekas peristirahatan para pembesar kompeni Belanda, semacam (vila sebutan sekarang). Didepan reruntuhan tersebut landasan helikopter atau heliped.

Pada saat lewat tengah malam, lima pendaki yaitu Faruq, Abiyoso, Dipo, latief, Annas, mengalami keganjilan ketika. Pasalnya mereka dikejutkan oleh terikan seorang wanita minta tolong.

“Tolong….Tolong…Kebakaran…kebakaran.. teriak wanita itu”

Sontak, kelimanya terbangun dan kebingungan. Mereka tak habis pikir “bagaimana mungkin ada kebakaran saat ini, kan sedang hujan lebat,” ucap Latief.

Annas menambahkan bahwa “kita ini kan rombongan pendaki satu-satunya yang mendaki disini, tadi pas kita lapor di Pos pelaporan dibawah kata jagawananya, gak ada orang mendaki kecuali kita,”tegasnya.

Dipo dengan santai menjawab “ah paling itu cewek ghaib yang ingin berkenalan dengan kita katanya untuk meredakan ketegangan”.

Abiyoso langsung menegur “ jangan bicara sembarangan kamu po” ini kita sedang di hutan bukan di rumah ujarnya dengan nada meninggi”.

Akhirnya Faruq menyarankan agar keempat temannya membaca ayat suci Al-qu’an agar gangguan suara tersebut bisa cepat berlalu.

Teriakan wanita tersebut, berangsur-angsur menghilang, dan hujan mereda. Ternyata sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari.

Pendaki itupun keluar tenda dan memeriksa lingkungan sekitarnya. Namun, tak ada tanda-tanda ada sosok wanita yang tadi terdengar meminta tolong. Tentunya seperti dugaan awal tak ada bekas-bekas jejak pendaki, apalagi bekas benda-benda terbakar seperti suara teriakan tersebut.

Setelah dirasa tak menemukan tanda-tanda sosok wanita tersebut, maka merekapun memulai beraktivitas memasak untuk makan sahur. Merekapun melanjutkan perjalanan selepas sholat subuh (Episode 1).***

 

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter