Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Mobilitas Pandemi dan Ekonomi

PARANGMAYA – Pandu Riono, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, menyoroti keputusan Indonesia untuk melonggarkan beberapa pembatasan COVID-19 minggu ini. Padahal rekor kematian masih menunjukkan angka tertinggi, dalam beberapa hari terakhir, lebih didorong oleh masalah sosial dan ekonomi daripada saran epidemiologi.

Saat negara terbesar se Asia Tenggara itu, bergulat dengan wabah virus corona terburuk di Asia, Presiden Joko Widodo mengumumkan pada hari Minggu bahwa sementara pembatasan keseluruhan yang berlaku sejak Juli akan diperpanjang selama seminggu, beberapa tindakan akan dilonggarkan.

Pelonggaran itu diberlakukan disektor Bisnis, seperti salon, bengkel, pasar tradisional, dan restoran dengan area terbuka sekarang akan diizinkan untuk dibuka kembali secara bersyarat, sementara mal akan diizinkan untuk beroperasi pada kapasitas 25% di luar “zona merah” berisiko tinggi yang ditentukan.

“Keputusan itu sepertinya tidak terkait dengan pandemi, tetapi terkait ekonomi,” kata Pandu Riono, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, mengimbau masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan, sebagaimana lansir dari Reuters, pada Selasa, tanggal 27 Juli 2021.

  Terbaru ! 300 Karyawan Netflix Di PHK, Ini Penjelasannya

Pemberlakuan pelonggaran ini dijalankan saat rumah sakit, dipenuhi oleh pasien dalam sebulan terakhir, terutama di pulau Jawa dan Bali yang padat penduduk. Namun, presiden pada hari Minggu mengatakan infeksi, dan hunian rumah sakit telah menurun, tanpa menyebutkan berapa banyak.

Langkah untuk melonggarkan beberapa pembatasan terjadi karena pemerintah menghadapi tekanan dari kelompok bisnis untuk bertindak menghindari PHK massal, dan dengan beberapa demonstrasi jalanan skala kecil minggu lalu.

“Masalahnya dibandingkan tahun lalu dampak pandemi, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi pada aspek sosial ekonomi dan politik semakin hari semakin besar karena varian Delta,” kata Dicky Budiman, ahli epidemiologi di Universitas Griffith Queensland.

Karena varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, telah menyebar ke seluruh Indonesia, kasus-kasus telah melonjak ke level tertinggi sejak awal pandemi.

Ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu mencatat rekor lebih dari 56.000 kasus harian pada pertengahan Juli, dan sementara jumlah kasus yang dilaporkan telah sedikit menurun, Indonesia mencatat rekor kematian COVID-19 tertinggi pada empat hari minggu lalu.

  Fadli Zon Beri Pentunjuk Ini Agar Presiden Jokowi Aman Sampai ke Kiev-Ukraina

Tetapi dengan lebih dari 50% orang Indonesia yang bekerja di sektor informal dan dengan dukungan keuangan yang terbatas dan meningkatnya kelelahan akibat pandemi, pemerintah memiliki sedikit pilihan, kata Dr Dicky.

“Apakah itu keputusan yang benar? Berdasarkan situasi epidemiologis, tidak. Tapi kemudian pemerintah tidak punya pilihan karena rumitnya situasi.”tambahnya. ***

 

Sumber : Reuters

Artikel Terkait

Terkini Teraktual

Nawala / Newsletter