Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

YouTube_Pic Kapal Jung Jawa

PARANGMAYA – Armada Pamalayu ini, sukses dibawah kepemimpinan kedua panglima tersebut. Sayangnya, saat mereka sukses menjalankan ekspedisi Pamalayu tersebut, justru bersamaan dengan kejatuhan kerajaan Singasari.

Kedua panglima tersebut, memutuskan untuk bergabung dengan Dyah Wijaya. Keduanya menjadi loyalis Dyah Wijaya usai Singasari Runtuh oleh kerajaan Gelang-Gelang (Kediri) pimpinan Raja Jayakatwang.

(2) Armada Perang Adipati Sumenep, Arya Wiraraja. Dia adalah adipati yang paling sukses mengembangkan potensi bahari, dan berhasil mengembangkan produksi kapal-kapal besar baik untuk kepentingan tata niaga maupun militer yang berpusat di Madura.

Kesuksesannya tersebut diraih pada era kerajaan Singasari saat dipimpin oleh Raja Kertanegara. Bahkan, Arya Wiraraja berhasil memperluas tata niaganya sampai ke selat Malaka dengan bangsa-bangsa mancanegara, termasuk dengan Tiongkok.

(3) Armada Militer dari Ranggalawe dan Lembu Sora. Ranggawale adalah anak dari Arya Wiraraja dan menjadi adipati di Tuban.

Dia menjabat rakryan mantri (Dewan Menteri Majapahit terdiri dari lima pejabat yang berfungsi sebagai badan pelaksana pemerintahan yang disebut Rakryan Mantri. Kata itu sendiri berarti pejabat bangsawan / pejabat tinggi).

Pada saat bersamaan pantai Tuban, menjadi tempat berkumpulnya seluruh armada Mongol, saat menginvasi Jawa pada tahun 1293.

(4) Pasukan darat Arya Wiraraja dari Lumajang hingga Blambangan. Arya Wiraraja adalah adipati Lumajang sebelum dipindah tugaskan oleh Raja Kertanegara di Sumenep.

Hubungan Arya Wiraraja dengan Lumajang hingga Banyuwangi terjalin secara baik. Sehingga bukan hal yang sulit meminta bantuan militer dari wilayah tersebut. Hal ini juga diratkan dengan hubungan tata niaga yang harmonis antara Madura dan wilayah Tapal Kuda.

Secara legalitas memang Dyah Wijaya hanya memiliki wilayah sebatas Tarik, namun secara legitimasi, justru memiliki armada yang tersebar dari Tuban, Madura, dan daerah yang sekarang disebut Tapal Kuda (diantaranya Lumajang hingga Banyuwangi).

Artikel Terkait

Terkini Teraktual