Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Net_Pic Plato

PARANGMAYA.COM – Plato lahir 40 tahun setelah Socrates, dan Plato mengenal Socrates hanya di tahun-tahun terakhir dari kehidupan Socrates.

Plato tumbuh besar pada masa perang Peloponesos sedang berkobar, dimana perang ini berakhir dengan kekalahan Athena pada 401 SM dan pada saat itu Athena dibawah kendali pemerintahan demokratis. Kekalahan ini menjadi salah satu alasan Plato untuk “sinis” dengan demokrasi.

Plato secara vulgar mengalamatkan kekalahan Athena pada sistem pemerintahan demokratis, yang menurutnya sistem ini tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyat di bidang politik, moral dan spiritual.

Selain itu, Plato juga memiliki latar belakang keluarga Aristokratik dari kedua pihak orang tuanya. Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturunan raja Kodrus.

Raja yang dikagumi dan dikenal karena kepiawaian dan kebijaksanaannya memerintah Athena. Ibunya bernama Periktione keturunan Solon, negarawan agung peletak dasar hukum Athena yang legendaris.

Kedudukan sosial Plato dan koneksi keluarganya yang sepertinya mempengaruhi pandangan yang pesimis terhadap demokrasi.

Terakhir tetapi yang paling dominan dalam menentukan sikapnya terhadap demokrasi adalah kematian guru yang sangat dicintainya yakni: Socrates, yang dihukum mati oleh pemerintahan demokratis.

Artikel Terkait

Terkini Teraktual