Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Pixabay_Ilustrasi Gurun Malam Hari

PARANGMAYA – Abu Nawas bernama asli Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami, identik dengan kejenakaan dan kebijaksanaannya. Dia juga kerap menyodorkan jawaban yang diluar pemahaman umumnya.

Hal ini dapat disimak lewat interaksinya dengan khalayak umum. Berikut jawaban-jawaban cerdas yang dilontarkan oleh Abu Nawas.

Suatu hari telah datang tiga orang datang kepada Abu Nawas untuk menanyakan satu pertanyaan yang sama, anehnya jawabannya berbeda.

Orang pertama : “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar, atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?

Abu Nawas : “Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.

Orang pertama : Mengapa?

Abu Nawas: “Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan. Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.

Orang kedua: “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakandosa-dosa kecil?

Abu Nawas: “Orang yang tidak mengerjakan keduanya.

Orang Kedua: “Mengapa?

Abu Nawas: “Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunandari Tuhan. Orang kedua langsung bisa mencerna jawabanAbu Nawas.

Orang ketiga: “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakandosa-dosa kecil?

Abu Nawas: “Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar.

Orang ketiga: “Mengapa?

Abu Nawas: “Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu. Orang ketiga menerima ulasan Abu Nawas.Ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.

Ketiga jawaban berbeda dari pertanyaan yang sama membuat muridnya kesulitan memahami alur fikir dari Abu Nawas. Maka sang muridpun bertanya “Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yangberbeda?

Abu Nawas: “Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati. Tingkatan mata itu, seperti anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata.

Tingkatan otak adalah orang pandai yang melihat bintang di langit. Bintang itu besar karena ia berpengetahuan.

Tingkatan hati adalah Orang pandai, dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan KeMaha-Besaran Allah. Akhirnya murid Abu Nawas mulai mengerti, mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.***