Proyek KA Cepat China Gunakan APBN ! Ngabalin Vs Said Didu : Lha yang Bikin Perencanaan Sehingga Akan Mangkrak Siapa ?

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Twitter_Photo Said Didu

PARANGMAYA –  Mantan Sekretaris Kementrian BUMN, Said Didu menyoroti, pernyataan dari tenaga ahli KSP Ali Mochtar Ngabalin dalam sebuah pemberitaan berjudul “Kereta Cepat Jakarta – Bandung pakai APBN, Ngabalin: Daripada Mangkrak”.

Said Didu langsung ngakak “Hahaha,”tawanya.

Dia langsung balik menyoal balik : “Lha yang bikin perencanaan sehingga akan mangkrak siapa ?,” tegasnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah ” Yang meminta agar kereta api cepat itu jalan padahal tidak laik dan tidak layak siapa ?,” tanyanya.

Dia menuliskan respon atas Ngabalin lewat akun Twitter pibadinya @msaid_didu pada Rabu, tanggal 13 Oktober 2021.

Said juga menambahkan bahwa persoalan KA Cepat itu tidak bisa dibebankan kepada rakyat.

“Terus kenapa rakyat yang harus bayar kesalahan tsb ?,”katanya.

“Hahaha. Lha yang bikin perencanaan sehingga akan mangkrak siapa ? Yang meminta agar kereta api cepat itu jalan padahal tidak laik dan tidak layak siapa ? Terus kenapa rakyat yang harus bayar kesalahan tsb ?,”paparnya.

Sebelumnya, Ngabalin mengatakan bahwa “Dalam proyek pelaksanaan kan sudah jalan, untuk bisa jalan kan tidak mungkin bermasalah, ketika kesepakatan dengan pemerintah menetapkan proyek, maka tak boleh lagi meninggalkan proyek-proyek yang mangkrak, karena uang negara habis dengan proyek mangkrak,” katanya.

Penggunaan APBN dalam Proyek KA Cepat, juga ikut dinarasikan oleh Arya Sinulingga dalam sebuah pemberitaan. Arya mengatakan bahwa “Pembengkakan itu hal yang wajar,”katanya.

Said langsung mempersoalkan letak kewajaran dari pembengkakan biaya tersebut. Karena menurut analisisnya “Eskalasi biaya lebih 10 % dari rencana awal adalah pekerjaan orang yang tidak bisa merencanakan,”tegasnya.

Pernyataannya ini terkait kebijakan penyertaan modal negara melalui APBN, untuk menambal pembengkakan proyek KA Cepat Jakarta-Bandung, yang mencapai USD 7,97 miliar. Jumlah angka pembengkakannya diperkirakan mencapai Rp 26,6 triliun.

“Eskalasi biaya lebih 10 % dari rencana awal adalah pekerjaan orang yang tidak bisa merencanakan. Study Jepang perkirakan biaya sekitar $ 6 milyar ditolak karena tawaran China saat itu sekitar $ 5 milyar. Sekarang melonjak menjadi $ 8,6 milyar,”paparnya.

***

Sign Up for Newsletter

Dapatkan update artikel terkini dari Parangmaya

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

Baca Juga :

Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Pesan Sekarang