Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Twitter_KH Cholil Nafis

PARANGMAYA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis menilai bahwa menggeser hari libur keagamaan sudah tak relevan. Karena “Saat WFH dan Covid-19 mulai reda bahkan hajatan nasional mulai normal,”katanya. Ditambah dengan “alasan agar tak banyak mobilitas liburan warga, dan tidak berkerumun,”jelasnya.

Dia menegaskan bahwa “Keputusan lama yang tak diadaptasikan dengan berlibur pada waktunya merayakan acara keagamaan,”ucapnya.

“Saat WFH dan Covid-19 mulai reda bahkan hajatan nasional mulai normal sepertinya menggeser hari libur keagamaan dengan alasan agar tak banyak mobilitas liburan warga dan tidak berkerumun sudah tak relevan. Keputusan lama yang tak diadaptasikan dengan berlibur pada waktunya merayakan acara keagamaan,”ucapnya.

KH Cholil menjelaskan bahwa libur Hari Besar Keagamaan (HBK) di Indonesia jumlahnya paling banyak, karena Indonesia menghormati hari besar tersebut. Sehingga menurutnya bahwa “Jadi libur itu mengikuti HBK bukan HBK yang mengikuti hari libur.

“Indonesia paling banyak libur kerja karena menghormati hari besar keagamaan (HBK). Jadi libur itu mengikuti HBK bukan HBK yang mengikuti hari libur. Jika ada penggeseran hari libur ke setelah atau sebelum HBK berarti bonus karena kita memang selalu libur.

Dia juga menambahkan bahwa, keputusan hukum yang didasarkan pada sebuah kedaruratan, akan kembali kepada hukum asalnya ketika kondisi kedaruratannya telah hilang.

“Suatu keputusan hukum yang landasannya karena darurat jika daruratnya sudah hilang maka hukumnya berubah ke hukum asalnya,”jelasnya.

Sumber : Twitter