Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

PARANGMAYA – Ekonom Senior, DR Rizal Ramli menantang narasi pemerintah, yang kerap mengatakan bahwa ratio utang Indonesia lebih kecil daripada Jepang. Narasi pejabat selalu kekeh memakai indikator yang menyesatkan, yaitu  ratio Utang/GDP. Sehingga solah Indonesia lebih baik daripada Jepang.

“Pejabat2 ndableg selalu menggunakan indikator menyesatkan ratio Utang/GDP, sehingga Indonesia lebih baik dari Jepang dll,” katanya.

Dia melanjutkan bantahannya dengan menyodorkan tabel Net International Investment Position (NIIP) atau Posisi investasi internasional bersih. Kali ini dia membandingkan antara NIIP milik RI dan Jepang, hasilnya bertolak belakang. Karena NIIP milik RI negati sedangkan NIIP milik Jepang Positif.

“Coba lihat Net International Investment Position: RI -$281 Milyar, Jepang +$3,375 Trilliun, Vietnam +$107 Milyar dll. Tidak pernah bahas debt service ratio,”ungkapnya.

Perlu diketahui bahwa Posisi investasi internasional bersih (NIIP) adalah untuk mengukur kesenjangan antara stok aset asing suatu negara dan stok aset negara asing tersebut. Pada dasarnya, ini dapat dilihat sebagai neraca suatu negara dengan seluruh dunia pada titik waktu tertentu.

NIIP mencakup aset dan kewajiban luar negeri yang dimiliki oleh pemerintah suatu negara, sektor swasta, dan warga negaranya. NIIP dianalogikan dengan net foreign assets (NFA) , yang menentukan apakah suatu negara merupakan negara kreditur atau debitur dengan mengukur selisih aset dan kewajiban eksternalnya.

Sebagian besar negara merilis angka NIIP setiap tiga bulan. Dalam NIIP, aset dibagi menjadi investasi langsung , investasi portofolio , investasi lainnya, dan aset cadangan , yang meliputi mata uang asing, emas, dan hak penarikan khusus. Kewajiban dilaporkan dengan klasifikasi yang sama, kecuali untuk “aset cadangan” yang tidak memiliki ekuivalen pada sisi kewajiban.

***