Bagikan :

Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Twitter_ MUI

PARANGMAYA – KH Nurul Irfan, selaku Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, menjelaskan pembelajaran terkait sebuah peristiwa masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Saat itu Umar berencana melakukan kunjungan ke negeri Syam. sedangkan pada saat bersaamaan, negeri syam sedang dilanda thaun (wabah).

Dia mengambil keputusan yang bijak dan tepat bagi umat. Kebijakannya adalah tidak memasuki negeri Syam, yang saat terjadi thaun (wabah). Kebijakan ini diawali dari sebuah musyawarah, sebagian sahabat menyarankan untuk tetap melanjutkan perjalanan, sebagai menjalankan perintah Allah SWT, sedangkan sahabat lain menyarankan untuk menunda perjalanan ke Syam.

Seorang sahabat berpendapat, Jika Umar tidak melanjutkan perjalanan ke negeri Syam, maka ia termasuk lari dari takdir Allah. Sedangkan sahabat lainnya yaitu Aburrahman bin ‘Auf, berpendapat sebaliknya.

Aburrahman bin ‘Auf meyakinkan Umar untuk tidak melanjutkan perjalanan dengan mengutip hadits Nabi.

إذا سَمِعْتُمْ بالطَّاعُونِ بأَرْضٍ فلا تَدْخُلُوها، وإذا وقَعَ بأَرْضٍ وأَنْتُمْ بها فلا تَخْرُجُوا مِنْها

“Apabila kalian mendengar wabah thaun melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian-kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

KH Nurul Irfan menguraikan bahwa semasa Rasulullah hidup, belum ada wabah virus yang menjangkiti dan menyebar di tengah-tengah manusia. Mungkin saja Rasulullah meriwayatkan ini karena tahu bahwa wabah penyakit menular itu ada dan sebagai langkah antisipasi bila terjadi di masa mendatang beliau meriwayatkan ini. Wallahu a’lam.

Selain itu, terdapat pula hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah RA berbunyi:

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

Artinya: ‘’ “Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit.’’ (HR Ibnu Majah)

Kiai Nurul menjelaskan tetang pengertian dari hadits tersebut adalah, hewan yang sakit seperti unta saja tidak boleh dicampur baur. sehingga hal ini pun berlaku pada manusia, bila ada yang sakit apalagi dan sakitnya tersebut menular, jangan ada campur baur dengan orang yang sedang sakit, ataupun orang yang berkontak dengannya, sampai keadaan betul-betul pulih karena khawatir penyakit tersebut akan menulari yang lain.

Dia juga mengatakan bahwa bagi kita yang terjangkit wabah penyakit tersebut, jangan panik atau pun bersedih hati karena semuanya ini sudah menjadi ketetapan-Nya, yang belum kita ketahui apa hikmah dibalik musibah tersebut. Tetap melakukan ikhtiar untuk penyembuhan dan berdoa kepada Allah agar segara diberi nikmat sehat.

Rasulullah pernah mengajarkan cara untuk menolak bala dari bahaya suatu penyakit, berikut ini adalah doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَسَيِّئِ الأَسْقَامِ مِثْلَ.

‘’Ya Allah aku berlindung kepadamu dari penyakit belang, gila dan kusta, serta penyakit lain yang mengerikan.

’’Demikian kisah Umar di atas, hendaknya dapat kita jadikan sebuah pembelajaran yang berharga. Sebagai seorang pemimpin, umar menimbang manfaat dan mudharat bagi umat jika ia terus melanjutkan perjalanan ke negeri yang sedang ada wabahnya tersebut,” katanya, sebagaimana dikutip dari situs resmi mui.or.id

Tindakan tegas Umar ini mungkin bisa kita tiru, dengan tidak berpergian ke luar kota atau negeri yang terindikasi tinggi angka penyebaran virusnya. Dari kisah Umar ini, semoga kita semua dapat mengambil ibrahnya. Wallahu a’lam bisshowab.***

Sumber : mui.or.id